Sabtu, 07 Januari 2017

Penyebab Tangisku? KAMU!



Untuk penyebab tangisku,


Kupandangi lagi foto-foto itu, kuingat lagi kenangan-kenangan itu, kuingat lagi sosokmu, yang sempat menghancurkan aku. 

Sudah beberapa hari sejak peristiwa itu, saat pertengkaran hebat kita memuncak pada kata putus saat cekcok yang kita alami berujung pada kata pisah. Bukan karena kita, bukan karena aku ataupun kamu, tapi karena mantanmu. Dia begitu menggilaimu. Dia begitu mencintai kamu. Dia masih saja sulit melupakan kamu. Dia masih saja mengharapkan kamu, meskipun dia tahu bahwa kala itu kamu telah bersamaku. 

Pesan singkatnya masih saja mengisi inbox handphone-mu, dan tahu bagaimana perasaanku saat itu? Rasanya aku ingin membentakmu dengan keras, rasanya aku ingin meronta pada ketidaktegasan yang kamu tunjukkan padanya. Ingin rasanya aku menyadarkanmu, menggoyang-goyangkan tubuhmu, “Dia mantanmu! Dia masa lalumu! Aku kekasihmu! Aku masa depanmu!”

Tapi, kau tetaplah wanita baik yang sama seperti pertama kali kukenal, kau selalu takut untuk menolak orang-orang yang ingin kembali masuk ke dalam hidupmu, meskipun dia telah mengiris-iris perasaanmu, meskipun dia telah merusak dan mematahkan hatimu. Dan, kebaikanmu yang terlalu berlebihan itu berimbas padaku, menyebabkan cemburu mengalir deras di darahku, dari vena sampai arteri, hanya ada emosi yang tiba-tiba merasuki. Apa salahku sehingga kau berbuat begini?

Kau tahu? Sebenarnya aku masih mencintaimu, sebenarnya tak ada yang lain yang bisa membuatku tersenyum, selain kamu. Tapi, semua telah terlanjur terjadi, kata putus yang kulontarkan dengan emosi kini menjadi sesal yang tak terganti.

Sempat kala itu kau mengajakku untuk kembali, seperti dulu, saat mantanmu tak lagi mengganggumu, saat kita bisa bahagia dengan jalan kita, aku dan kamu yang dulu satu. Tapi, entah mengapa, aku ragu untuk kembali bersatu denganmu. Entah mengapa masih ada yang mengganjal dalam hatiku. Entahlah.. semua terjadi di luar perkiraanku, kita seperti dipermainkan takdir, sedangkan aku dan kamu tak sempat membaca aturan main.

Aku tidak pernah berbohong kalau aku berkata rindu. Aku tak pernah menggunakan topeng ketika aku berkata tentang cinta padamu. Aku mencintaimu, setulus dan sesederhana itu.

Aku bukan seperti mantanmu, yang seringkali menyiksamu, yang seringkali membakar emosimu. Tapi, sekeras apapun perjuanganku, mengapa tetap saja sulit membuatmu, menatapku?

“Dari mantanmu
                                                                  yang kadang kala membasahi selimut tidurnya
                                                                            dengan air mata yang terjatuh untukmu”
 


Setelah Patah Hati



Satu rahasiaku yang mungkin saja kamu tak pernah tahu. Atau, kamu memang tidak pernah peduli akan semua itu. Setelah patah hati, aku harus melalui banyak hal untuk bisa berdiri kembali. Aku harus melalui fase-fase sulit, ketika kenangan terasa begitu sakit. Semua hal yang kutemui selalu saja mengingatkan padamu. Rasanya ingin berlari sejauh mungkin, tetapi di tempat paling paling jauh pun tetap saja kamu yang kuingin. Ingatan itu menggerogoti dadaku. Mengantarkan aku kepada perasaan paling pilu. Berat rasanya menjalani semua itu sendiri. Namun, yang aku lakukan tetap mencoba mamapah diri. Agar jatuhku tidak membuat rapuh yang membunuhku.

Setelah patah hati, begitu susah rasanya untuk bisa tersenyum sendiri. Aku memilih melarikan diri pada hal-hal yang bukan aku. Aku menangis sejadi-jadinya. Berharap dengan menangis perasaan luka itu lega. Namun, yang terasa tetap saja sakitnya. Aku mencari kontak-kontak orang yang bisa kuajak bicara di handphone-ku. Jahat memang, menjadikan orang lain sebagia pelampiasan sedihku. Namun, hanya itu yang bisa kulakukan saat itu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi melenyapkan dalam pikiranku. Menangis sejadi-jadinya belum mampu memulihkan hatiku. Dan ternyata menjadikan orang lain pelampiasan juga tidak berhasil. Aku masih saja merasakan sesaknya terluka.

Sementara di sana kulihat kamu tetap baik-baik saja. Seolah semua yang terjadi bukan hal yang begitu penting, mudah saja bagimu melupakan kita, yang bagiku hal terindah yang aku punya. Kamu bermain-main dengan hidupmu yang baru. Menatapku sejenak, lalu pergi lagi tanpa perasaan bersalah. Kamu tidak mau tahu apa aku masih kuat saat hatiku kamu buat terlalu patah. Aku benci dengan sikapmu seperti itu. Saat aku berjuang sepenuh hati menjauhimu, kamu datang menyapa, lalu pergi kembali. Saat luka itu pelan-pelan mulai reda sakitnya, kamu datang menggoreskan rasa pedihnya lagi.

Setelah sekian lama patah hati. Aku kembali ingin menangis. Kali ini bukan lagi menangis kepergianmu. Aku hanya ingin melihat diriku dalam kesedihan. Betapa menyedihkannya aku dulu saat mempertahankan seseorang yang tak mau diharapkan. Betapa menyedihkannya diriku dulu saat aku ingin membuatmu tetap cintai aku, sementara kamu tetap mencintai orang yang bukan aku. Aku ingin menangis sejadi-jadinya hari ini. Lalu menyadari, setelah patah hati yang terlalu patah itu, aku masih bisa hidup kembali. Aku masih bisa berjalan kembali. Setidaknya, setelah menangis sejadi-jadinya, aku paham satu hal penting. Kamu bukan lagi orang yang bisa menjadi penyebab tangisku. Kini aku menangis untuk menenangkan diriku yang pernah sebodoh itu.

Jumat, 02 Desember 2016

Hatimu yang dengan penuh kucintai

Kepada kamu yang membuat aku jatuh hati dan memilih berhenti mencari. Mungkin saja esok kita merasa lelah dan jenuh dengan semua yang kita jalani. Bisa jadi kamu bertemu dengan orang baru yang mungkin terlihat menarik daripada aku. Atau aku yang tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang berbeda dari dirimu, dan suka padanya. Kita mungkin saja ada di fase seperti itu. Berada pada titik ingin merasakan hal baru. Ingin menjalani sesuatu yang bisa saja terlihat lebih merayu.

Namun, pahamilah, saat memilih saling jatuh hati kita sudah meniatkan dan bersepakat untuk berhenti mencari. Ingat-ingat lagi, bagaimana panjangnya perjalanan yang telah kita lalui. Berapa banyak hal pernah kita lewati. Lalu, jika saat ini ada hal baru, yang bisa jadi hanya penguji rasa di dada. Akankah kamu menyerah begitu saja? Bukankah kita selalu percaya; cinta jauh lebih kuat dari apa saja. 

Marilah mendekat untuk mendekapku lagi. Pelan-pelan kuatkan lagi janji-janji yang mungkin kendur sebab ambisi. Kita rekatkan lagi perasaan-perasaan yang mulai dingin dan pucat pasi. Sebab, kita sudah memilih saling jatuh cinta. Maka, selayaknya bertahan dan kembali saling menjaga. Hatimu sudah menjadi bagian dari apa saja yang aku gelisahkan. Begitu pun dengan hidupku, sudah menjadi pengisi hari-harimu. Hal-hal yang tak pernah ingin lepas dari apa saja yang kau hadapi. Senang dan sedihmu. 

Semoga kamu mengarti, bahwa dengan tetap mencintai dan bertahan padamu aku merelakan banyak hal terlewati. Namun aku tidak pernah menyesali, sebab bersamamu hal sederhana pun bisa terasa lebih berarti. Jangan berniat pergi lagi. Hatimu sudah terlanjur menjadi hal yang dengan penuh kucintai. Kita adalah dua orang yang sama-sama berjuang melawan rayuan. Bukan kamu saja yang sedang memperjuangkan. Aku pun juga selalu mengabaikan perasaan lain yang datang kepadaku. Perasaan yang mungkin saja membuatku melepaskanmu jika mengikutinya. Namun, aku tidak pernah memilih membiarkannya hidup berlama-lama dalam kepalaku. Sebab, aku sudah memilihmu dan selalu ingin berhenti mencari cinta yang baru. 

Aku Yang Masih Mencemaskanmu

Sejak sore kemarin debar dadaku terasa tak menentu. Aku merasa cemas namun tak mengerti apa yang sedang kucemaskan. Andai bisa memilih suasana hati, aku ingin merasakan hal yang tenang saja. Bukan merasakan perihal seperti ini. Di dalam pikiranku tak pernah lepas dari pertanyaan bagaimana keadaanmu di  sana? Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah semuanya masih menjadi seperti seharusnya? Aku benar-benar tidak bisa tenang, meski aku telah mencoba untuk tidak peduli. Namun perasaan di hati tak bisa kubohongi. Aku seolah tak mampu mengendalikan diriku.

Namun aku sadar kau sedang berusaha menjauhiku. Kau sedang belajar melupakan hal-hal yang selalu kita ingat. Kau sedang belajar membunuh perasaan yang tetap bertahan hidup di hatimu. Kau sedang mengkhianati dirimu sendiri. Mencoba menyangkal hal-hal yang masih membenam di dadamu. Aku tahu siapa kamu, aku merasakan sedih yang menggelayuti matamu. Kau mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang kau anggap balas jasa. Padahal kau sebenarnya tahu balas jasa tidak selalu harus begitu. Maafkan aku yang juga tak pernah bisa melupakanmu. Seseorang yang masih saja mencemaskan keadaanmu.

Aku bahkan tak pernah bisa merelakanmu. Akulah seseorang yang tak ikhlas kau bersama orang lain. Sebab aku tahu perasaanmu dan perasaanku bukan hal yang harus dikorbankan. Namun, kau terlalu cepat menyerah. Katamu, kau tak sekuat aku menghadapi hidup. Semantara kau belum menjalani sepenuhnya bersamaku. Bagaimana mungkin kau menyangkal hal-hal yang dulu kau percaya. Aku mengenal siapa kamu. Kau bukan seseorang yang lemah seperti itu. Hanya saja beberapa hal di dunia ini memang terlihat menakutkan, dan kau mungkin ketakutan akan hal itu.

Aku akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja, kekasih. Rasa sedih ini biarlah kutenangkan dengan segala hal pedih. Aku hanya sedang mencemaskanmu. Aku sungguh tidak bisa membayangkan kau menjadi orang yang tidak kucintai lagi. Sudah terlalu dalam perasaan yang kita tanam. Sudah tumbuh dan rimbun hingga aku tak tahu cara yang baik untuk mencabutnya. Aku tak yakin bisa menenangkan diri jika kau benar-benar lepas pergi. Andai bisa memilih, aku lebih suka berdebat denganmu. Perihal siapa yang benar dan salah di antara kita. Aku sungguh tidak suka tidak mendapati  apa pun kabarmu. Semuanya terasa lebih menyakitkan, saat kau mencoba benar-benar menghilang. Sementara kita tahu, kau dan aku masih saling menyimpan diri dalam ruang hati. Percuma kita saling bunuh, jika setiap tusuk pisau dan angin di dada selalu mampu membuat rindu baru tumbuh.

Rabu, 23 November 2016

Aku tidak mampu berbohong lagi

Aku tak pernah seberdebar ini menunggu seseorang membalas messagenya. Aku tidak pernah merasa setakut ini hanya untuk mendengar suaramu dari voice note. Kamu hadir dalam bulan-bulan ketika aku berusaha melupakan seseorang, dan saat ini aku masih bertanya-tanya siapa dirimu yang sebenarnya? Aku tidak sepenuhnya yakin kamu adalah jawaban Tuhan atas semua doaku. Aku juga tidak terlalu yakin bahwa kamu adalah bidadari tanpa sayap yang dikirim langsung dari surge untuk menenangkanku sesaat. Kamu terlalu jauh untuk kutatap dan kugenggam dan semua pertanyaan ini perlahan membuat dadaku sesak dan sekarat.

Beberapa hari terakhir, kamu hadir dalam hidupku. Menjelma menjadi seorang wanita sederhana yang cara bicaranya begitu tertata. Kita bertukar sapa hingga larut malam, hingga kaupun tertidur meninggalkan chatting. Kita kembali membicarakan berbagai hal yang absurd yang entah mengapa segalanya begitu menyenangkan bagiku. Aku pernah lupa rasanya begitu bahagia hanya mendengar suara seseorang. Aku pernah lupa rasanya tersenyum diam-diam ketika bisa bercakap dengan seseorang yang mengerti duniaku– dunia yang tak pernah dimengerti siapapun.

Aku menyukaimu. Aku mohon maaf jika ini terlalu lancing. Tapi, adakah yang bisa menahan diri jika telah lama kamu menunggu seseorang yang sangat kau inginkan, lalu dia datang saat kau sendiri, disaat kau butuhkan dia dalam hari-harimu, dan disaat hatinya hamper sekarat karena terlalu sering patah. Ya, kamulah sosok itu. Wanita yang hadir dalam dinginnya malam-malamku, wanita yang muncul dari rinainya hujan kemudian dengan segara memberikan payung untukku.

Saat pertama mengenalmu, aku tidak pernah tahu bahwa kita akan sedekat ini. Percakapan absurd kita beberapa hari yang lalu, seakan-akan mendekatkan kita. Saat itu, semesta telah berkonspirasi untuk mempertemukan aku dan kamu. Tidak pernah aku merasakan senyaman ini berbagi cerita bersama seorang wanita. Kamu adalah wanita yang segalanya, wanita yang selalu berhasil membuatku bahagia.

Kini, kamu adalah duniaku, meskipun percakapan kita hanya sebatas chat dan suara, namun aku merasa kita adalah kawan lama yang dipertemukan kembali oleh Tuhan; entah untuk tujuan apa. Beberapa minggu ini, aku bertahan pada jauhnya jarak kita, dan hanya bisa membayangkan betapa nyamannya bisa benar-benar mendengar suaramu hanya dalam jarak beberapa kilometer. Setiap berjam-jam kita bercakap di chatting bbm, aku berharap bisa menarik tanganmu dari ponselku, berharap bisa merasakan hangatnya genggaman tanganmu dari ponselku. Saat melihat fotomu, aku berharap bisa benar-benar menatap matamu, melihat wajahmu, dan berhenti untuk membayangkan bagaimana manisnya senyum tipismu. Egoiskah jika aku lelah pada semua ini? Dilarangkah jika aku mulai ingin kamu menjadi miliku satu-satunya?

Mungkin, kita berdua tahu, ini memang cinta, walaupun belum pernah ada tatapan mata sebelumnya. Tapi, aku selalu bertanya-tanya, sampai kapan aku harus terus menunggu? sampai kapan aku harus terus membayangkan hangatnya pelukmu, bagaimana lebarnya lenganmu, bagaimana menyenangkan mengecup keningmu, bagaimana, bagaimana dan bagaimana? Sampai kapankah kamu membiarkanku terus bertanya-tanya dan berharap?

Salahkan jika aku ingin kita lebih dari sini? Semua panggilan sayang itu, semua kata cinta itu, dan semua perasaan aneh yang ada dalam hidup ini selalu membuatku mulai merasa berat menjalani hari-hari. Aku selalu merindukanmu, selalu ingin melihatmu, selalu ingin kita segera bertemu, tapi ternyata untuk saat ini– semesta belum mengizinkan kita bersama. Aku tidak bisa lagi menyangkal bahwa aku sedang dalam keadaan sangat mencintaimu, tidak ingin kehilangan kamu, ingin memilikimu, dan ingin mengusir semua wanita yang berusaha mendekatiku, atau yang mungkin berusaha kamu dekati.

Aku ingin merasakan hangatnya genggaman jemarimu. Aku mau merasakan menyenangkannya berada di pelukmu. Aku menunggu kebahagian itu datang, menunggu saat kita duduk berdua, sibuk menonton film india, atau film korea atau film Indonesia atau film apapun– asal bersamamu. Aku ingin kita ke dufan, bandung, yogya, ke manapun; yang penting bersamamu. Aku ingin menjadi pria paling bahagia karena bisa memilikimu seutuhnya. Aku tidak sabar untuk bersikap posesif padamu, menanyakan setiap pria jahil yang berusaha menggodamu. Aku sangat ingin menjadi prioritasmu. Egoiskah aku jika aku menginginkan kamu sebagai penyebab kebahagaiaanku?

Aku ingin kita berhenti saja sampai sini. Mengehentikan semua drama yang melelahkan ini. Aku terlalu lelah menunggu, terlalu sabar menanti, dan terlalu sakit untuk diajak berjalan lagi. Aku ingin kita bertemu di satu titik, titik yang membuat kita untuk berlari makin cepat, agar semua ini tidak akan pernah berubah jadi terlambat.

Aku ingin kita memulai semua dari awal lagi, sebagai pasangan yang benar-benar pasangan. Sebagai perasaan yang dimabuk cinta karena pertemuan nyata, bukan karena gombalan dan rayuan dari ujung chatting semata. Saat itu terjadi, kita akan mulai berjalan lagi, dengan langkah yang tertata rapi, dengan saling bergenggaman tangan juga.


Aku tidak mampu berbohong lagi, bahwa aku sangat ini kita segera bertemu, bahwa aku ingin kita segera bersama, bahwa aku ingin kita normal seperti pasangan lainnya. Meskipun orang-orang di luar sana pasti sibuk bertanya, ”Mengapa kamu mau dengan dirinya, sedangkan kau saja baru kenal beberapa minggu yang lalu?”

Hubungan jarak jauh yang menyakitkan

“Ketika aku hanya menjadi
orang yang membahagiakanmu sementara
nikamati saja, karena suatu hari
kamu akan merindukan perhatian
yang lebih manis dari kekasihmu sekarang.” -@akhbrmrf

Semua orang di luar sana pasti sangat ingin sekali berbahagia, apalagi bahagia dalam hubungan. Namun, dalam kisahnya dia harus berjuang, berdiam, dan menunggu pun juga bagian dari kebahagian. Berjuang, itulah yang selama ini kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih ingin memperjuangkanmu.

Setiap malamku selalu muncul dirimu dalam pikiranku. Kenyataannya kau tak ada disampingku, entah untuk menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku. Dengan sikapmu yang amat cuek dan tak peduli kepada diriku, mengapa aku masih memperjuangkanmu? Aku tak tahu, jadi jangan tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang tak benar-benar adil ini.
Pertama kali kita bertemu dan setelah bertemu, ada rasa rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata yang sedu. Apakah kamu tahu hal itu? Tentu saja tidak, kau tidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu, sedalam cinta yang aku punya, aku masih ingin mempertahankan “kita” yang sebenarnya membuahkan sakit bagiku.

Jarak dan waktu yang membuatku khawatir, kekhawatiran yang tak pernah ku ceritakan pada dirimu. Ku panjatkan doa yang kusebutkan tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Keadaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti apa-apa. Ketakutan semakin menghantuiku, pertanyaan hati terus memojokkan diriku, apakah kamu masih pantas ku perjuangkan sejauh ini? akankah kita mempunyai kebahagian tersediri?

Aku takut…. Aku takut dengan sifatmu yang semakin cuek dan tidak peduli kepadaku, aku takut kamu menghianati perjuangku, aku takut kamu menyimpan pria lain tanpa sepengetahuanku. Jika kebersamaan kita tak berjalan mudah dan membuatku lelah. Aku minta untuk mengakhiri ini semua, sebab hatiku tak sanggup lagi menampung rasa sakit yang terus menerus. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu, aku lelah dihantui dengan kekhawatiran ini. Aku ingin pelangi yang cerah, bukan langit gelap seperti ini.

Kamu dimana ketika aku sedang cinta-cintanya, sedang sayang-sayangnya? Kemana larinya kamu ketika aku sedang mencintaimu disini sendirian? Seringkali ku maafkan kecerobohan dirimu, seringkali kali ku maklumin kesalahan dirimu dan selalu ku berikan senyum terbaik walaupun aku sedang menangis.

Semakin hari, semakin takut diriku dengan semua sifatmu. Seolah-olah kamu mencintaiku, nyatanya dirimu hanya ingin mempermainkan ku atau mungkin saja kamu hanya ingin menjadikan diriku sebagai pelampiasan atas rasa sakit mu. Walaupun aku selalu berprasangka buruk pada mu, sesekali ku mengingat kembali masa-masa kita pernah berdua dalam kebahagian yang singkat itu.
Beri aku sinyal jika kau tak benar-benar cinta kepadaku, agar aku bisa segara mengakhiri perjuangku ini. jujur, aku semakin tak sanggup lagi menahan semuanya. Sudah cukup aku di permainkan oleh para wanita-wanita yang tak mempunyai hati.

Dulu kau juga pernah mengatakan padaku “Jalani saja dulu, kita bangun sama-sama kebahagian kita dan buktikan kepada yang lain bahwa kita bisa membuat relationship goals” aku masih mengingat baik-baik kata-kata itu.


Keberdaan kita yang sangat jauh membuat hati ini takut. Aku yang di utara dan kamu yang di timur, dan kita hanya bisa berkomunikasi melalu social media. Awalnya itu hanyalah hal biasa bagiku, namun entah mengapa hal biasa itu berubah menjadi luar biasa bagiku. Yang aku pikirkan saat ini hanyalah ketakutan, kekhawatiran, dan juga kebingungan. Apakah kamu benar-benar menjaga perasaan ini dengan baik atau tidak? Aku tak tahu, aku hanya bisa berdoa dan percaya dengan kata-kata manis mu itu. 

Sabtu, 05 November 2016

Aku telah memilihmu

Aku tau banyak di luar sana hati yang mungkin bisa saja menjadi penopang saat aku jatuh. Hati yang juga mungkin bersedia menemani sepiku. Yang bersedia bermalam larut bersamaku. Yang bersedia berbagi segala yang ia punya padaku. Tapi aku telah memilihmu.

Aku memilihmu atas apasaja resiko yang akan ku hadapi nanti.

Aku memilihmu karena aku percaya. Rasa tak pernah salah dalam mengeja. Meski ia tak selalu benar dalam memperhitungkan luka. Tak apa. Bagiku memilihmu selalu mampu memulihkan. Kau obat atas segala nyeri di sudut hati, walau kadang, tak jarang kau juga sebab rindu memagut sepi.

Aku memilihmu atas segala rasa di dada. Mengabaikan segala kalimat manusia yang  melemahkanku. Aku memilih buta. Aku memilih tuli. Aku memilih tak peduli pada ejaan manusia yang hanya ingin aku tanpa kamu.

Memilihmu adalah hal yang ingin ku kenang sebagai keputusan terbaik. Meski nanti yang aku dapat tak selalu hal-hal yang  baik. Tak apa. Memilihmu akan selalu menyenangkan. Meski juga menggenangkan.

Bila akhirnya apa yang aku pilih tak juga membuat pulih. Dan aku akan tetap tersenyum meski perih. Setidak aku bahagia, pernah mencintaimu, dan pernah memilihmu. Meski tak memulihkanku.